Biksu Myanmar Bongkar Kebohongan Biksu Indonesia Yang Sebut Konflik Rohingya Bukan Konflik Agama

ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Beberapa hari yang lalu, kumpulan biksu di Indonesia dengan penuh percaya diri menyatakan konflik di Rakhine, Myanmar, yang menimpa umat Muslim Rohingya sejatinya tidak terkait dengan agama tertentu. Walaupun ternyata itu berbeda dengan pernyataan Biksu Myanmar.



Berikut pernyataan yang diberikan oleh kumpulan biksu di Indonesia;

Melihat eskalasi dari krisis dan konflik kekerasan yang tak kunjung mereda, dan berdampak buruk, maka dengan ini pimpinan-pimpinan majelis agama Budha Indonesia menyatakan:

1. Keprihatinan mendalam atas krisis kemanusiaan di Rakhine, Myanmar yang telah menimbulkan korban jiwa dan kerugian moril serta materiil yang besar. Konflik di Rakhine bukanlah konflik agama melainkan konflik sosial dan kemanusiaan.

2. Menumbuhkan solidaritas kemanusiaan atas krisis Rakhine, Myanmar dengan mengedepankan cinta kasih bahwa korban maupun masyarakat yang terdampak sama-sama manusia setara dan serasa di hadapan Tuhan.

3. Menghentikan kebencian dan tindak kekerasan agar tak semakin parah kerusakan yang diakibatkan.

4. Mendesak Pemerintah Myanmar untuk memberikan perlindungan, bantuan, hak asasi dasar kepada masyarakat Rakhine.

5. Menolak segala bentuk provokasi memperluas dan membawa isu konflik Rakhine ke Indonesia. Sebab ini dapat mengganggu kerukunan umat beragama di Indonesia.

6. Menghimbau masyarakat Indoensia untuk dapat menyaring informasi yang beredar melalui media sosial dan tidak terprovokasi untuk menyebarkan kebencian. Kami sangat mengharapkan kepada Cyber Crime Polri dan BIN agar mendeteksi informasi berbentuk provokasi agar tak menyebar ke masyarakat.

7. Kami sangat mengharapkan Pemerintah Indonesia untuk menjamin umat beragama untuk beribadah dengan tenang dan aman, serta menjamin keamanan rumah ibadah yang ada di Indonesia.

8. Sangat perlu diingat bahwa tidak ada agama yang bisa dikaitkan dengan aksi terorisme. Sebab aksi tersebut tidak mencerminkan perilaku umat beragama. Peristiwa ini diharap jadi pendorong bersatunya umat beragama di indonesia bahkan dunia.

9.Kami menghimbau umat beragama, terutama umat Budha untuk tidak terprovokasi. Sebagai umat beragama sudah selaiknya kita bersama-sama untuk menjaga kerukunan dan perdamaian umat beragama di Indoensia bahkan dunia.

10. Kami, umat Budha Indonesia yang menjunjung tinggi kerukunan dan perdamaian menyampaikan simpati atas penderitaan saudara-saudara kami pengungsi Rohingya dan masyarakat di Rakhine. Kami berdoa agar segala penderitaan mereka segera berakhir.

Pernyataan Umat Budha yang disampaikan melalui siaran persnya, Rabu, (30/8) ditandatangani antara lain oleh Bikkhu Dhammakaro Mahathera dari Organisasi Sangha Theravada Indonesia; Biksu Duta Smirti Sthavira dari Sangha Mahayana Indonesia.

Berikutnya, Bikkhu Bhadrasradha dari Sangha Agung Indonesia; Ketua Umum Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia Arief Harsono; Ketua Umum Parisadha Buddha Dharma Niciren shosyu Indonesia Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja.

Dari pernyataan Pimpinan Majelis-majelis Agama Buddha Indonesia, Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja di Jakarta, Rabu, 30 Agustus 2017 yang menyatakan bahwa konflik di Rakhine, Myanmar, yang menimpa umat Muslim Rohingya sejatinya tidak terkait dengan agama tertentu. Pernyataan tersebut ada dalam poin pertama.

“Prihatin atas krisis kemanusiaan di Rakhine, Myanmar, yang telah menimbulkan korban jiwa dan kerugian moril serta materiil yang besar, bukanlah konflik agama melainkan konflik sosial dan kemanusiaan,” demikian dibacakan Ketua Umum Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja di Jakarta, Rabu, 30 Agustus 2017, dalam konferensi persnya.

Pernyataan yang meng-klaim bahwa penindasan yang dilakukan para biksu dan tentara Myanmar bukan merupakan konflik SARA mendapat tanggapan secara luas dari masyarakat Indonesia, baik muslim maupun non muslim. Masyarakat sangat menyayangkan pernyataan biksu budha Indonesia tersebut yang terlihat sangat bertentangan dengan kejadian sesungguhnya di Rakhine, Myanmar. Seorang netizen sesepuh Katolik, Antonius Boediono pun mengecam keras pernyataan para biksu Indonesia tersebut.

Lebih mengejutkan lagi, turut menanggapi pernyataan Suhadi, netizen Zara Zettira melalu akun twitternya @zarazettirazr mengatakan bahwa dalam video dokumenter Al-Jazeera, biksu-biksu Myanmar secara jelas dan gamblang sekali mengatakan bahwa kasus Rohingya adalah konflik agama.

“Di semua video documenter @AlJazeera bhiksu2 sendiri menyatakan ini konflik agama,” tulisnya, Jumat 1 September 2017.


Dalam video yang diunggah di youtube oleh Al-Jazeera pada tahun 2014 tersebut, Biksu Budha garis keras Ashin Wirathu, yang dikenal dengan sikap anti-Muslimnya, mengatakan pada hari Minggu bahwa gerakannya akan bergandengan tangan dengan kelompok Sri Lanka yang berpikiran sama untuk melindungi umat Budha.

Wirathu, yang merupakan pemimpin 969, sebuah gerakan fundamentalis di Myanmar, mengatakan organisasinya akan bekerja bahu-membahu dengan Bodu Bala Sena, atau Pembuat Tenaga Buddha Sri Lanka, yang dituduh melakukan kekerasan terhadap minoritas Muslim di negara kepulauan.

Pada pertemuan tersebut terlihat sekali kekuatiran mereka terhadap perkembangan muslim. Jelas juga terlihat bahwa apa yang terjadi pada muslim Rohingya merupakan pembersihan etnis karena beragama Islam. Para bisku Myanmar pun mengakui bahwa mereka melakukan tersebut untuk menjaga hanya Budha tetap berkembang di sana. Wirathu sendiri mengatakan bahwa apa yang dilakukan para biksu Myanmar karena mereka takut Myanmar akan dijadikan negara Islam oleh para muslim tersebut.

Terlihatkan bertentangannya antara pernyataan biksu di Indonesia dengan biksu di Myanmar. Sungguh terlihat sekali bahwa yang terjadi di Rakhine, Myanmar, adalah pembantain terhadap muslim Rohingya.
ADSENSE 336 x 280 dan ADSENSE Link Ads 200 x 90

0 Response to "Biksu Myanmar Bongkar Kebohongan Biksu Indonesia Yang Sebut Konflik Rohingya Bukan Konflik Agama"

Posting Komentar